Diberdayakan oleh Blogger.

Rabu, 30 Agustus 2017

Tag:

Pluralisme versus Radikalisme


Indonesia merupakan negara kepulauan yang meliputi beragam ras, suku, budaya, dan agama. Adanya keragaman tersebut memberikan warna tersendiri yang dengannya sedikit banyak menentukan corak dan karakteristik bangsa Indonesia. Realita kemajemukan ini mau tidak mau harus diterima dengan penuh kesadaran sebagai bagian dari sunnatullah. Sehingga, pluralisme sebagai suatu sistem nilai yang memandang keberagaman atau kemajemukan secara positif sekaligus optimis dan berupaya untuk berbuat sebaik mungkin berdasarkan kenyataan, kiranya dapat menjadi solusi yang lebih relevan dan urgen atas adanya kemajemukan itu sendiri.
Pluralisme sebagai solusi terhadap adanya keberagaman, sering kali disandingkan dengan paham radikalisme. Penyandingan ini dilandasi atas dasar keterbalikan makna sekaligus sikap antara pluralisme dan radikalisme. Adanya kasus-kasus kekerasan atas nama agama dan pemahaman keagamaan yang sangat menusuk rasa kemanusiaan setidaknya menjadi contoh kongkritnya. Dalam semua tragedi tersebut, nuansa penarikan persoalan ke wilayah agama tampak begitu kental.
Dalam pembahasan ini, radikalisme dipahami sebagai sikap keagamaan yang kaku dan sekaligus mengandung kekerasan dalam tindakan. Secara spesifik radikalisme berarti paham-paham, sikap-sikap, dan setrategi-setrategi termasuk praktek-praktek (tindakan) yang berjalan dan dijalankan oleh kelompok-kelompok masyarakat (keagamaan) dalam kerangka meneguhkan, mengembangkan atau mempertahankan ajaran agama yang diikuti dengan cara-cara radikal.(Afifuddin Harisah, 2015: hlm. 27) Paham keagamaan yang terkesan kaku ini disebabkan kurangnya kesadaran dan pemahaman akan pentingnya sikap pluralisme. Melihat fenomena tersebut, dirasa teramat perlu untuk menginternalisasikan nilai-nilai pluralisme sebagi salah satu upaya untuk mencegah faham-faham yang radikal .      
Internalisasi memiliki pengertian sebagai suatu upaya penghayatan terhadap suatu ajaran, doktrin, atau nilai sehingga merupakan keyakinan dan kesadaran akan kebenaran doktrin atau nilai yang diwujudkan dalam sikap dan perilaku. Internalisasi tidak hanya sekedar mengajarkan dan memahamkan tentang sesuatu, tetapi memastikan bahwa sesuatu yang diajarkan itu telah tertanam dalam hati dan secara fundamental telah menjadi bagian permanen dari karakter kepribadiannya.(Afifuddin Harisah, 2015: hlm. 26) Penghormatan kepada simbol-simbol agama lain, misalnya, jika telah terinternalisasi, maka nila kebenaran pada penghormatan tersebut telah dipahami dengan baik dan selajutnya menjadi sikap yang mendasari perilakunya dalam berhadapan dengan realitas keberagamaan yang majemuk. Jadi, internalisasi nilai-nilai pluralisme merupakan suatu upaya menanamkan nilai-nilai normatif, memahamkan dan membimbing agar menerima serta mengakui kemajemukan (pluralitas) agama. Kemudian, pengakuan tersebut akan terwujud dalam tata nilai dan tingkah laku sosial, khususnya sikap dan interaksinya terhadap penganut agama lain serta kelompok agama yang memiliki pemahaman yang berbeda.   
Dalam buku Pluralisme Kaum Sarungan dijelaskan bahwa indikator terwujudnya internalisasi nilai-nila pluralisme dapat dilihat dari beberapa hal: Pertama, memahami adanya kemajemukan (pluralitas) agama, sistem kepercayaan dan bentuk pemahaman keagamaan sebagai realitas sosial yang tidak dapat diingkari. Kedua, menerima dan mengakui pluralitas tersebut, baik secara normatif dengan berlandaskan pada sumber-sumber ajaran agama (nash), ataupun secara filosofis dengan berpijak pada pemikiran-penikiran logis tentang eksistensi kebenaran perennial agama dan realtivitas pemahaman serta interpretasi nalar manusia terhadap nash-nash agama. Ketiga, menampilkan sikap keterbukaan, toleransi, empatik, dan kesantunan dalam menyikapi realitas kemajemukan sosial disekitarnya. Keempat, kesediaan untuk berinteraksi secara damai dan co-operative dengan menganut agama lain serta menghormati ritus-ritus dan simbol-simbol keagamaan di luar agamanya. Kelima, menolak dan menghindari segala bentuk perilaku kekerasan (radikalisme) yang mengatasnamakan agama dan segala upaya atau praktik-praktik yang bertujuan mempertahankan keyakinan atau pandangan subyektif dengan cara-cara radikal dan destruktif.  
Muhammad Irfan Faziri, Alumni MA Unggulan Al-Imdad Bantul dan Pondok Pesantren Al-Imdad Bantul, sekarang Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan menetap di LSQ Ar-Rohmah Bantul. Satu dari beberapa santri alumni #AmazingAlimdad yang menerima Program PBSB Kemenag RI 2015.




About Santri Al-Imdad

Selamat Datang di Website Resmi Pondok Pesantren Al-Imdad Bantul DI Yogyakarta.