Diberdayakan oleh Blogger.

Senin, 17 April 2017

Tag: , , , , , , ,

Antara Kuliah, Mengaji dan Mengabdi


Kuliah adalah kegiatan belajar-mengajar di jenjang pendidikan tinggi selepas bangku sekolah menengah atas. Bagi sebagian anak muda yang tak puas hanya dengan menjadi generasi putih abu-abu, kuliah seakan sudah jadi ambisi. Terlebih bagi mereka yang melihat jenjang pendidikan tinggi itu sebagai pengantar bagi tercapainya cita-cita mereka. Tak terkecuali bagi santri. Bahkan motivasi dan hasrat untuk merasakan bagaimana rasanya suasana menuntut ilmu di luar pesantren, bagaikan sebuah energi lain yang membuat mereka tetap bersemangat.
Namun demikian, selain kewajiban menuntut ilmu saat kuliah, sebenarnya ada sebuah kewajiban lain bagi santri yang rentan memudar saat mereka menikmati masa-masa kuliah tersebut. Apa itu? Mengabdi. Ya, mengabdi. Kegiatan inilah sesungguhnya yang akan bermanfaat bagi mereka agar kuliah tidak hanya sekedar menjadi aktivitas prestise berisi main-main dan jalan-jalan. Lantas, bagaimana sebenarnya kuliah yang baik bagi para santri itu? Apakah para santri yang ingin melanjutkan kuliah sudah menata niatnya dengan benar? Apakah mereka akan sanggup bertanggung jawab dengan ambisi mereka tersebut? Tulisan ini akan memberikan sedikit gambaran terkait apakah kuliah itu benar-benar penting bagi para santri dibandingkan mengabdi dan menimba ilmu kepada kyai?
Melihat keinginan dari para siswa yang akan lulus tahun ini, terutama bagi para santri Al-Imdad, yang sangat berambisi untuk kuliah, saya punya beberapa pertanyaan. Sebenarnya apa yang mereka cari ketika kuliah nantinya? Apakah ilmu, atau sekedar merubah status dari yang tadinya santri menjadi mahasiswa? Lalu apa sih tujuan kuliah itu sendiri?
Kuliah tentulah terkait erat dengan sebuah status baru sebagai mahasiswa. Dan mahasiswa sebagai pencari ilmu, dituntut untuk mampu mengabdi kepada masyarakat sebagai jalan dalam mengaplikasikan ilmunya. Inilah hakikat kuliah yang sebenarnya. Perlu disadari pula, tujuan utama kuliah bukanlah pekerjaan, atau mencari gelar bergengsi. Kuliah itu not just passing through, but learning. Karena kuliah tak sesedarhana mencari hasil tanpa menikmati proses. Karenanya, pada posisi inilah mahasiswa dituntut untuk bisa lebih aktif dalam mengamalkan ilmunya. Karena, di dalam dunia sebenarnya –kembali ke masyarakat– mahasiswa adalah motor yang diharapkan mampu berperan aktif menghidupkan kegiatan masyarakatnya, di mana pun ia berada. Inilah yang kerap disampaikan oleh mereka yang telah lulus dari kuliah dan sukses dalam kehidupannya.
Ironisnya, saat ini, anggapan seperti itu perlahan  mulai hilang. Di zaman sekarang ini, banyak dari mahasiswa yang membuang kesempatan meraih ilmu pengetahuan yang sebenarnya bertebaran ketika mereka kuliah. Dengan dalih mencari pengalaman baru, mereka justru tergiur melakukan kegiatan-kegiatan yang tidak menunjang kegiatan kuliah mereka. Umum terjadi di masa kini, banyak mahasiswa yang memilih menghabiskan waktu luang di kos-kosan atau di rumah dengan hanya bermain game, bermain gitar, nonton film, berebut panggung di media sosial, ketimbang menyambangi perpustakaan atau toko-toko buku. Libur kuliah menjadi saat bagi mereka sowan ke mall-mall untuk membeli barang yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan mereka, atau sekadar bersenang-senang cuci mata ketimbang dibandingkan menambah wawasan dan pengetahuan dengan berdiskusi dengan sesama mahasiswa, berkonsultasi dengan dosen, atau menghadiri seminar.
Apa yang salah? Apakah para mahasiswa tersebut lupa dengan pentingnya niat? Tidak juga. Tak sedikit mahasiswa yang mempersiapkan kuliah dengan niat yang sungguh-sungguh. Tapi, entah mengapa, niat kuat itu bisa saja terkikis sebab godaaan bagi mahasiswa jauh lebih besar dibandingkan ketika kita masih duduk di bangku MA atau SMA. Sehingga tak jarang kemudian mahasiswa-mahasiswa sedemikian hanya datang dan duduk di kelas ketika dosen masuk, mengerjakan tugas, lalu pulang. Istilahnya “kupu-kupu” alias kuliah-pulang, kuliah-pulang. Inilah salah satu dari sekian penyebab mengapa banyak sekali sarjana yang hanya menjadi pengangguran setelah menyelesaikan kuliahnya.
Satu hal lagi, kuliah akan menjadi kehilangan makna bagi para santri jika mereka melupakan kegiatan ngaji yang selama ini menjadi santapan rutin mereka di pondok. Bahkan ada juga yang saat nyantri mampu menjaga akhlak yang baik, namun atas dalih pergaulan mengalami degradasi akhlak akibat kurangnya pendalaman ilmu agama yang didapat saat mengaji. Karenanya, sebagai santri yang cukup beruntung menjadi mahasiswa, sempatkanlah waktu untuk mengaji di samping kesibukan-kesibukan ketika kuliah. Karena, bisa jadi, berkah ilmu akan kita dapatkan ketika mengaji.
Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya semua amal itu tergantung pada niatnya.” Dan dalam sebuah kaidah fiqh disebutkan bahwa, “Semua amal tergantung pada tujuan/maksudnya.” Dari hadits Nabi dan kaidah fiqh tersebut dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya kuliah itu tergantung pada niatnya ataupun tujuannya. Jika niatnya baik, maka proses dan hasilnya juga insya Allah akan baik. Namun sebaliknya, kalau niatnya saja sudah tidak baik, maka tentu saja, kuliah itu akan diiringi dengan hal-hal yang tidak baik yang ujung-ujungnya akan mendatangkan hasil yang tidak baik pula. Semoga kita terhindar dari yang sedemikian.
العلم بلا عمل كالشجر بلا ثمر
Ilmu tanpa amal layaknya pohon tanpa buah.”
Bersandar pada mahfuzhot di atas, dapat kita pahami bahwa ilmu berbanding lurus dengan aplikasi alias pengamalannya. Dan bagi para santri, pengamalan ilmu itu bisa diukur melalui proses mengabdi. Dengan mengabdi, ilmu yang kita dapatkan di pesantren bisa diejawantahkan kepada masyarakat pesantren itu sendiri sebagai batu loncatan terhadap pengabdian pada masyarakat dalam lingkup yang lebih luas. Dengan mengabdi, santri tentu akan semakin untuk lebih intensif lagi dalam menimba ilmu, dan terutama berkah dari sang kyai.

          Pada akhirnya, seperti kata orang bijak, semua adalah pilihan. Semua ada plus-minusnya sendiri-sendiri. Dengan kata lain, semua kembali ke diri kita sebagai individu yang dipasrahi tanggung-jawab sebagai khalifah Allah di muka bumi. Maka, pilihlah jalan yang sesuai dengan hati nurani. Semoga ilmu yang kita peroleh, baik itu saat mengaji sebagai santri maupun saat mengabdi sebagai mahasiswa (yang tetap menjadi santri), menjadi ilmu yang benar-benar akan bermanfaat selama-lamanya. Amin.

Ananta Prayoga Hutama Syam, Alumni MA Unggulan Al-Imdad Bantul dan Pondok Pesantren Al-Imdad Bantul, sekarang Mahasiswa UIN Maliki Malang dan menetap di Ibn Khaldun Dorm Ma'had Sunan Ampel Al-Ali Uin Maliki Malang. Satu dari beberapa santri alumni #AmazingAlimdad yang menerima Program PBSB Kemenag RI 2016.

About Yusuf Anas

Selamat Datang di Website Resmi Pondok Pesantren Al-Imdad Bantul DI Yogyakarta.