Diberdayakan oleh Blogger.

Rabu, 15 Maret 2017

Tag: , , , , , ,

METODE MENCINTAI ALLAH (MAHABBATULLAH)

Sebagai umat muslim, mencintai Allah SWT merupakan suatu kewajiban yang harus kita perlihatkan di dalam kehidupan kita sehari-hari. Cinta di sini bukanlah cinta yang hanya diucapkan melalui lisan belaka, melainkan cinta yang disertai dengan pembuktian yang nyata di dalam akhlak dan tingkah laku kita sehari-hari. Secara sederhana, mencintai Allah SWT dapat dibuktikan dengan cara mentaati segala sesuatu yang diperintahkan Allah serta menghindari dan menjauhi segala sesuatu yang dilarang-Nya.

Di dalam Al-qur’an, ada beberapa ayat yang menerangkan tentang perilaku-perilaku seseorang yang mencintai Allah dan Allah pun cinta terhadap orang tersebut. Diantaranya ialah Q.S Al-Ma’idah: 54, yang artinya :
“Wahai orang-orang yang beriman, barang siapa diantara kamu yang murtad dari agama Islam maka kelak Allah akan datangkan suatu kaum yang Allah cintai dan mereka pun mencintai Allah, yaitu mereka yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin lainnya, bersikap keras dan tegas terhadap orang-orang kafir, dan berjihad di jalan Allah, serta tidak gentar dan takut terhadap celaan orang-orang yang mencelanya.”
Berdasarkan ayat di atas, ada 4 perbuatan yang digolongkan kepada orang-orang yang mencintai Allah SWT, yaitu:
a. Bersikap lemah lembut terhadap sesama mukmin.
b. Bersikap keras dan tegas terhadap orang-orang kafir.
c. Berjihad di jalan Allah.
d. Tidak takut terhadap celaan orang-orang yang suka mencela.
Di ayat lain Allah juga menjelaskan bahwa jika kita ingin merasakan cinta-Nya dan mendapatkan kasih sayang-Nya maka kita harus bersedia dan tulus mengikuti Rasulullah SAW.
Allah SWT berfirman di  dalam Q.S Ali Imran ayat 31 :
“Katakanlah olehmu (Muhammad), jika kamu benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah Aku (muhammad), niscaya Allah akan mencintai kalian dan memberikan ampunan atas dosa-dosa kalian. “
Kita diperintahkan untuk mengikuti Rasulullah karena beliau merupakan hamba Allah yang telah diangkat menjadi kekasih-Nya, dan seorang yang benar-benar dapat mencintai Allah dengan sepenuhnya, sehingga jika kita mengikuti sunnah-sunnahnya maka kita digolongkan sebagai orang yang mencintai Allah.
Di dalam ilmu tasawuf, konsep cinta atau mahabbah itu merupakan  tingkatan tertinggi dalam spiritual peribadatan seseorang. Rabi’ah Al-adawiyah misalnya, seorang wanita yang memperkenalkan konsep mahabbah ke seluruh umat muslim, beliau membuktikan rasa cintanya kepada Allah dengan melakukan ibadah yang begitu luar biasa. Beliau mengatakan bahwa ia beribadah kepada Allah bukan karena mengharapkan imbalan surga atau karena takut akan siksa neraka, melainkan karena memang betul-betul cintanya begitu tulus kepada Allah SWT. Karena ia beranggapan bahwa orang yang beribadah karena mengharapkan balasan surga atau takut neraka itu merupakan tanda ketidak-ikhlasan seorang muslim, berarti  jika balasan surga atau neraka itu tidak ada maka apakah orang-orang itu masih mau beribadah?
Begitu banyak kisah-kisah menakjubkan dari Rabi’ah Al-adawiyah yang menunjukkan betapa besarnya cintanya kepada Allah SWT, hingga ada riwayat yang menyatakan bahwa Rabi’ah tidak pernah menikah sampai akhir hayatnya lantaran begitu cintanya kepada Allah SWT. Ketika ia ditanya alasan kenapa tidak ingin menikah, ia menjawab karena jikalau ia menikah, ia takut cintanya kepada Allah akan terbagi dan tidak utuh lagi, dan ia juga takut jikalau nikah akan melalaikannya dari beribadah kepada Allah SWT.
Selain itu, juga ada beberapa kiat untuk meraih mahabbatullah atau cintanya Allah SWT, yaitu:
1. Untuk meraih cinta Allah maka seseorang harus benar-benar beriman kepada Allah SWT dan membenarkan segala ajaran-ajaran-Nya. Kita harus meyakini  bahwa segala sesuatu yang diperintahkan Allah itu terdapat kebaikan dan kemaslahatan didalamnya, serta kita juga harus yakin bahwa segala sesuatu yang dilarangnya itu terdapat keburukan dan kerusakan di dalamnya. Dan cinta memang harus dilandasi dengan kepercayaan, tanpa adanya kepercayaan maka cinta akan sulit muncul.
2. Untuk meraih cinta Allah seseorang juga harus mengenal Allah lebih jauh, dalam istilah tasawuf disebut ma’rifatullah. Jika kita sungguh-sungguh telah mengenal Allah, bahwa Allah maha pengasih dan pemberi rahmat, dan kita mengetahui bahwa nikmat dan karunia Allah begitu banyak dicurahkan kepada kita, maka dengan itu akan timbul kesadaran supaya kita lebih semangat dalam beribadah kepada Allah sebagai ungkapan rasa syukur kita terhadap nikmat dan karunia-Nya tersebut. Cinta memang butuh perkenalan, tanpa mengenali sesuatu yang akan dicinta, mana mungkin rasa cinta itu akan timbul, makanya dalam istilah sosial ada ungkapan yang berbunyi “tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta”.
3. Untuk meraih cinta Allah seseorang juga harus menebar cinta dan kasih sayang terhadap sesama makhluk Allah, tanpa harus membeda-bedakan ras, suku , bangsa ataupun agama. Tidaklah dikatakan cinta Allah bagi seseorang yang masih suka menimbulkan permusuhan dan perkelahian antar sesama manusia. Hidup dengan cinta itu begitu indah, maka berusahalah menebarkan cinta kepada sesama makhluk-Nya.
PENGARUH CINTA ALLAH DALAM BERIBADAH
Allah menciptakan manusia tidak lain hanyalah untuk beribadah kepada-Nya. Dalam melakukan ibadah tersebut maka sebaiknya kita menghadirkan rasa cinta kita kepada-Nya, agar ibadah yang kita lakukan terasa lebih nikmat, karena biasanya segala sesuatu yang didasarkan dengan cinta maka hasilnya pasti akan lebih baik. Jika kita mencintai Allah maka pastilah kita akan berusaha melakukan ibadah yang sesuai dengan ridha-Nya, sama halnya  seperti seorang pemuda yang sedang jatuh cinta kepada seorang gadis, pastilah pemuda ini rela melakukan apa saja yang diridhai dan diingini oleh gadis tersebut.
Menghadirkan rasa cinta kepada Allah saat beribadah tentu saja sangat berpengaruh terhadap kualitas ibadah tersebut. Ibadah yang dilandasi dengan cinta sangat berbeda dengan ibadah yang tidak dilandasi dengan cinta. Sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya, jika kita mencintai Allah maka otomatis dorongan dan motivasi untuk beribadah secara maksimal akan lebih kuat, dan apa saja yang menjadi penghalang dalam beribadah maka akan dapat dikalahkan oleh rasa cinta tersebut.
Dalam menyikapi pengaruh cinta dalam beribadah ini, para ahli sufi telah mengelompokkan beberapa tipe dalam beribadah kepada Allah berdasarkan motivasinya dalam ibadah tersebut, diantaranya adalah:
1. Ibadah dengan perumpaan budak. Kita tahu bahwa budak memiliki mental yang penakut. Ia mau bekerja karena takut akan dimarahi oleh majikannya. Dan jika kita beribadah kepada Allah hanya karena takut akan murka-Nya, maka tak ada bedanya kita dengan budak yang motivasi ibadahnya itu hanya lantaran takut akan siksa dan azab dari sang Tuan.
2. Ibadah dengan perumpaan kuli. Setiap melakukan pekerjaan ia selalu ingin mendapatkan upah atau gaji secepatnya. Ia hanya mau bekerja dengan maksimal jika majikannya mau membayar gajinya tepat waktu, dan jika majikannya terlambat atau tidak membayarkan gajinya, maka biasanya ia langsung berubah menjadi malas dan bekerja asal-asalan. Begitu juga halnya dengan beribadah, ada orang yang beribadah kepada Allah lantaran ingin mendapatkan balasan atau bayaran secepatnya berupa kekayaan. Ia tidak memikirkan bahwa balasan Allah di akhirat lebih besar ketimbang balasan di dunia. Maka tidak sedikit orang yang memiliki tipe ibadah seperti ini ketika ia telah berusaha beribadah dengan maksimal, namun akhirnya Allah belum mengabulkan doa atau ibadahnya, ternyata hidupnya masih tetap dalam keadaan kekurangan maka ia akan berputus asa dan berhenti beribadah, bahkan sampai memaki-maki Allah.
3. Ibadah dengan perumpaan pedagang. Dalam bekerja, pedagang hanya memiliki satu tujuan yaitu mencari keuntungan. Dalam beribadah juga seperti itu, setiap ia ingin beribadah maka terlebih dahulu ia memikirkan untung ruginya. Tipe seperti ini tidak ada salahnya, di dalam Al-quran juga banyak ayat-ayat yang menjelaskan bahwa setiap amal ibadah yang baik maka akan mendapat pahala atau surga. Namun, bagi kaum sufi tipe ini mengurangi tingkat keikhlasan seseorang.
4. Ibadah dengan mentalitas syukur atau berterima kasih. Tipe ini merupakan tipe ibadah yang cukup baik, karena seseorang beribadah disebabkan karena ia merasa bahwa betapa banyak karunia Allah yg diberikan kepadanya sehingga ia ingin membalas semua itu dengan cara bersyukur dan melakukan ibadah kepada Allah dengan semaksimal mungkin. Dan ia tidak pernah memikirkan balasan apa yang akan diberikan Allah kepadanya yang penting baginya hanyalah bersyukur dengan ibadah yang dilakukannya tersebut.
5. Ibadah dengan perasaan cinta kepada Allah SWT. Tipe inilah yang banyak digunakan oleh para kaum sufi, terutama bagi Rabi’ah Al-adawiyah. Ia menganggap bahwa rasa cinta akan menimbulkan keikhlasan yang luarbiasa, sehingga jika ia beribadah ia tidak pernah memikirkan atau menghitung-hitung berapa besar pahala yang akan ia dapat. Sekalipun balasan surga atau pahala itu tidak ada maka ia akan tetap terus beribadah, karena landasan ia beribadah ialah rasa cinta kepada Allah yang begitu luar biasa.


Muhammad Bahrudin Syafi'i, Alumni MA Unggulan Al-Imdad Bantul dan Pondok Pesantren Al-Imdad Bantul, sekarang Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan menetap di LSQ Ar-Rohmah Bantul. Satu dari beberapa santri alumni #AmazingAlimdad yang menerima Program PBSB Kemenag RI 2016.

About Santri Al-Imdad

Selamat Datang di Website Resmi Pondok Pesantren Al-Imdad Bantul DI Yogyakarta.