Diberdayakan oleh Blogger.

Selasa, 13 Juni 2017

Prosedur Daftar Ulang PSB Gel II PSB PP Al-Imdad



Semua berkas dikumpulkan pas mondok hari pertama tgl 16 Juli 2017 (khusus point 11 cukup 3 lembar materai saja)


BARANG BAWAAN UNTUK SANTRI PUTRI


BARANG BAWAAN UNTUK SANTRI PUTRA

Published: By: Yusuf Anas - 03.41

Jumat, 09 Juni 2017

PUASA DAN BEBERAPA HIKMAHNYA

image: zamzamialmakki (c) 2012

Secara khusus, puasa sudah sangat familiar bagi muslim Indonesia. Ia adalah satu dari sekian ibadah yang diajarkan dalam agama Islam yang rahmatan li al-‘aalamiin. Namun demikian, pada hakikatnya puasa ini tidak hanya ada dalam tradisi keagamaan Islam saja. Beberapa agama lain juga mengajarkan umatnya untuk melaksanakan ibadah ini, meskipun dengan beberapa perbedaan dalam tata laksananya.
Dalam bahasa Sansekerta, puasa berasal dari dua kata, yaitu: upa dan wasa. Upa, semaca perfiks yang berarti dekat dan wasa yang berarti Yang Maha Kuasa. Jadi, upawasa atau yang kemudian pengucapannya berubah menjadi puasa, adalah salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Dalam agama Islam, puasa dilaksanakan dari sejak fajar terbit di ufuk timur, dan berakhir saat matahari terbenam di belahan bumi bagian barat. 
Di sepanjang waktu itu, orang yang berpuasa dilarang untuk melakukan berbagai perbuatan yang dapat membatalkan puasanya, seperti makan, minum, jimak dan lain sebagainya. Orang yang berpuasa pun dituntut untuk lebih berhati-hati dalam melakukan aktifitas sehari-harinya. Karena, apabila melakukan suatu kesalahan atau tidak berhati-hati maka puasanya hanya akan berakhir sia-sia. Kenapa sia-sia? Sebab, pahala puasa bisa lenyap tak berbekas karena kesalahan tersebut, sehingga pelakunya hanya akan mendapatkan rasa lapar dan haus saja. 
Di dalam artikel ini penulis akan mencoba membahas beberapa hikmah di balik ibadah puasa ini sesuai dengan ajaran agama Islam. Dalam agama Islam, terdapat dua macam puasa yaitu puasa wajib dan puasa sunnah. Puasa wajib adalah puasa yang harus dilaksanakan semua umat islam yang telah memenuhi syarat wajib puasa dan apabila ditinggalkan tanpa ada dhorurot tertentu maka akan menimbulkan dosa. Puasa wajib ini masih terbagi lagi menjadi beberapa macam yaitu puasa Ramadhan, puasa qodho, puasa kafarah dan puasa nadzar. Sedangkan puasa sunnah yaitu puasa yang apabila dikerjakan maka akan mendapat pahala namun apabila ditinggalkan pun tidak akan menjadi masalah. Macam-macam puasa ini seperti puasa senin-kamis, puasa arofah, puasa syawal dan lain-lain.
Terkait dengan puasa di bulan Romadlon, yang merupakan rukun Islam ketiga, Allah SWT telah memerintahkannya dalam Surah al-Baqoroh ayat 183 :
Dalam ayat tersebut sudah jelas Allah SWT mewajibkan orang-orang yang beriman untuk berpuasa. Lalu, untuk apa Allah SWT memerintahkan umatnya untuk berpuasa? Setiap apa yang diperintahkan Allah pastilah mempunyai maksud dan hikmah tersendiri. Termasuk perintah untuk berpuasa ini.
Setelah dipelajari dan diteliti, ternyata terdapat banyak hikmah dari puasa itu dari berbagai aspek. Apabila seorang umat menjalankan ibadah puasa dengan sungguh-sungguh dan ikhlas lillahi ta’ala pastilah bisa merasakan hikmahnya. Adapun hikmah puasa terutama puasa bulan Romadlon apabila dipandang dari berbagai aspek:
A. Aspek Agama dan Spiritual
1) Puasa sebagai cara untuk mendekatkan diri dan bertakwa kepada Allah dengan menjalankan kewajiban dan meninggalkan laragan-Nya. Secara jelas Al-Quran menyatakan bahwa tujuan puasa yang hendaknya diperjuangkan adalah untuk mencapai ketakwaan atau la'allakum tattaqun. Dari hikmah tersebut agaknya perlu digarisbawahi beberapa penjelasan dari Nabi Saw. misalnya, "Banyak di antara orang yang berpuasa tidak memperoleh sesuatu dari puasanya, kecuali rasa lapar dan haus." Ini berarti bahwa menahan diri dari lapar dan dahaga bukan tujuan utama dari puasa.
2) Melatih kejujuran seorang Muslim. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman, "Semua amal putra-putri Adam untuk dirinya, kecuali puasa. Puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang memberi ganjaran atasnya." 
Maksudnya adalah bahwa puasa merupakan rahasia antara Allah dan pelakunya sendiri. Jadi kan setiap manusia yang berpuasa dapat bersembunyi untuk minum dan makan? sebagai manusia, siapa pun yang berpuasa, memiliki keinginan untuk makan atau minum pada saat-saat tertentu dari siang hari puasa? Jadi memang bahwa puasa mampu melatih seorang muslim untuk jujur. Di sini disimpulkan bahwa orang yang berpuasa akan melatih dirinya untuk melakukan kejujuran, melakukannya jujur karena Allah Swt. 
3) Puasa sebagai penyuci jiwa (tazkiyah lin nafs) membersihkan hati dari akhlak yang tercela. Puasa juga menghilangkan kesombongan dan keangkuhan diri, sebab rasa kenyang dan menuruti hawa nafsu akan membawa orang kepada kejelekan, kesombongan dan keangkuhan. Hal tersebut karena ketika manusia membutuhkan perkara-perkara ini, ia akan sangat sibuk untuk mendapatkannya. Dan jika ia telah memiliki semua itu, timbullah pandangan bahwa ia telah beruntung dan menjadi lebih tinggi dari yang lainnya. Selain itu juga dengan berpuasa seorang muslim akan mampu berkonsetrasi untuk bertafakur dan berdzikir mengingat Allah, hikmah dari tidak mengikuti hawa nafsunya.
4) Dari segi ibadah, puasa merupakan bentuk ibadah badaniyah yang utama dan sangat dicintai oleh Allah sebab di dalamnya terkumpul tiga macam kesabaran, yaitu:
a) Sabar melaksanakan ketaatan kepada Allah.
Sabar menahan rasa lapar dan haus dari shubuh hingga maghrib
b) Sabar menjauhi kemaksiatan kepada Allah.
Selain menahan rasa lapar dan haus seorang yang berpuasa di bulan ramadhan juga di perintahkan untuk menjaga lisan dan anggota tubuh lainnya "Bukanlah puasa itu hanya sekedar menghentikan makan dan minum tetapi puasa itu ialah menghentikan omong-omong kosong dan kata-kata kotor." (H.R.Ibnu Khuzaimah)
c) Sabar atas takdir Allah yang dirasakan pahit.
Dengan puasa, seorang hamba mendekatkan diri kepada Allah dengan meninggalkan beberapa perkara yang disenangi dan dicintainya berupa makanan, minuman. Dengan ini tampaklah kejujuran imannya, kesempurnaan penghambaannya, dan kekuatan cinta dan pengharapannya kepada Allah.
B. Aspek Sosial
1) Secara tidak langsung, puasa membiasakan seseorang untuk berlaku disiplin, bersatu, cinta akan keadilan dan kebersamaan, juga dapat menciptakan perasaan kasih sayang dalam diri orang-orang beriman serta memotivasi mereka untku berbuat bajik juga mencegah masyarakat atas perbuatan jahat dan perusakan dalam kehidupan.
2) Dengan berpuasa maka para pengusaha, orang kaya, bos ataupun milyarder bisa menyadari atas kenikmatan Allah yang telah dikaruniakan kepada mereka sungguh tak terhingga, disaat yang sama banyak orang-orang miskin yang tak mendapatkan sisa-sisa makanan, minuman dan tidak pula menikah. Dengan terhalangnya mereka fakir miskin untuk menikmati beberapa kenikmatan tersebut diatas maka keadaan seperti ini pun tentu akan sama dirasakan oleh mereka orang orang kaya saat tidak melakukan aktifitas makan dan minum mulai pagi hingga malam (puasa). Pada puncaknya peranan zakat fitrah akan benar-benar dijadikan sebagai salah satu alasan kepedulian sosial. Sementara sodaqoh bisa dijadikan media rutinitas sebagai bentuk rasa peduli terhadap golongan fakir miskin. Intinya puasa mendidik setiap individu untuk lebih peduli terhadap sesama umat manusia sehingga bisa menimbulkan rasa belas kasih kepada yang tidak mampu yang akan terwujud dengan sodaqoh dan zakat.
3) Puasa juga bisa mempersempit jalan aliran darah yang merupakan jalan setan pada diri anak Adam, ketahuilah bahwasannya Syaitan/setan masuk kepada manusia melalui jalan aliran darah, maka dengan berpuasa umat muslim akan lebih aman terhindar dari nafsu syahwat dan nafsu amarah. Nabi Muhammad pun telah menyarankan kepada umatnya supaya melaksanakan puasa jika belum mampu menikah sebagai benteng untuk membendung hawa nafsu syahwat.
C. Aspek Kesehatan
Apabila kita menjalankan puasa dengan benar dan teratur. Dalam arti berpuasa namun juga tidak meninggalkan sahur dan kondisi tubuh dalam keadaan sehat. Maka berpuasa ini juga dapat memberikan manfaat yang besar bagi kesehatan tubuh, antara lain:
1) Mencegah dari tumor. Rasa lapar yang dirasakan orang sedang berpuasa akan bisa menggerakkan organ-organ internal di dalam tubuh untuk menghancurkan atau memakan sel-sel yang rusak atau lemah untuk menutupi rasa lapar. Maka hal ini adalah saat yang bagus bagi tubuh untuk mengganti sel-selnya dengan sel-sel yang baru sehingga bisa kembali berfungsi dan beraktivitas. Dengan hal itu juga bisa menghilangkan organ-organ yang sakit dan memperbaharuinya. Dan puasa juga berfungsi menjaga badan dari berbagai penambahan zat-zat berbahaya, seperti kelebihan kalsium, kelebihan daging dan lemak. Juga bisa mencegah terjadinya tumor ketika awal-awal pembentukannya.
2) Menjaga kadar gula dalam darah. Puasa memberikan kepada kelenjar pankreas kesempatan yang baik untuk istirahat. Maka, pankreas pun mengeluarkan insulin yang menetralkan gula menjadi zat tepung dan lemak yang kemudian dikumpulkan di dalam pankreas.
3) Baik bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah. Berpuasa memiliki dampak yang sangat baik bagi jantung, ketika berpuasa, tubuh kita ternyata melakukan peningkatan HDL dan penurunan IDL yang menurut penelitian “chronobiological” ternyata hal tersebut merupakan hal yang sehat bagi jantung dan pembuluh darah.
4) Kekebalan tubuh menigkat. Bukannya lemas sehingga menjadi gampang sakit, ternyata puasa justru meningkatkan kekebalan tubuh. Hal ini didukung oleh penelitian yang bahkan sudah umum, yaitu mengenai: ketika seseorang sedang berpuasa maka akan mengalami peningkatan limfosit sampai dengan sepuluh kali lipat dalam tubuhnya, hal memberikan pengaruh yang besar terhadap sistem imuitas tubuh, sehingga puasa justru menghindarkan kita dari berbagai virus dari lingkungan luar/makanan yang tidak baik.
5) Sehat bagi ginjal. Ginjal merupakan penyaring zat berbahaya apapun yang kita makan dan minum dan berpuasa membuat ginjal semakin sehat, mengapa? Karena fungsi ginjal akan maksimal apabila kekuatan osmosis urin mencapai 1.000 sampai 12.000 ml osmosis/kg air, dan salah satu cara adalah dengan mengurangi asupan air yaitu ketika berpuasa.
Sebenarnya masih banyak hikmah dan manfaat puasa yang lain dalam bagi kehidupan manusia. Namun, mungkin itu saja yang bisa penulis paparkan. Maka dari secuil paparan manfaat dan hikmah puasa tersebut dapat kita simpulkan bahwa ibadah puasa memiliki banyak manfaat bagi kehidupan manusia khususnya yang menjalankannya. Tidak salah jika Allah mewajibkannya kepada umat islam di bulan Ramadhan untuk menjalankan puasa sebulan penuh, karena begitu banyak manfaatnya. Dengan menjalankannya maka kita dapat menerima pahala dari Allah dan juga mendapat kehidupan yang lebih baik.
Semoga ibadah puasa kita, terutama di bulan Romadhon yang mulia ini, diterima oleh Allah SWT dan kita semua senantiasa diberikan oleh Allah SWT kemudahan dalam menjalankan perintah-perintah-Nya dan dianugerahi kekuatan menjauhi larangan-larangan-Nya. Amin.

Ahmad Sholihin Hafi, Alumni MA Unggulan Al-Imdad Bantul dan Pondok Pesantren Al-Imdad Bantul, sekarang Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan menetap di Asrama Putra FKIK UIN Jakarta. Satu dari beberapa santri alumni #AmazingAlimdad yang menerima Program PBSB Kemenag RI 2016.
Published: By: Yusuf Anas - 08.51

Senin, 22 Mei 2017

Berkah Ramadlan



Jika berbicara tentang puasa, yang pertama kali muncul di benak kita adalah menahan diri dari makan dan minum. Namun, makna dari puasa itu sendiri selain sebagai rukun Islam yang ketiga, puasa juga merupakan salah satu media bagi tiap muslim untuk menata hati, meningkatkan keimanan dan mengendalikan hawa nafsu. 
Published: By: Yusuf Anas - 04.01

Senin, 17 April 2017

Antara Kuliah, Mengaji dan Mengabdi


Kuliah adalah kegiatan belajar-mengajar di jenjang pendidikan tinggi selepas bangku sekolah menengah atas. Bagi sebagian anak muda yang tak puas hanya dengan menjadi generasi putih abu-abu, kuliah seakan sudah jadi ambisi. Terlebih bagi mereka yang melihat jenjang pendidikan tinggi itu sebagai pengantar bagi tercapainya cita-cita mereka. Tak terkecuali bagi santri. Bahkan motivasi dan hasrat untuk merasakan bagaimana rasanya suasana menuntut ilmu di luar pesantren, bagaikan sebuah energi lain yang membuat mereka tetap bersemangat.
Namun demikian, selain kewajiban menuntut ilmu saat kuliah, sebenarnya ada sebuah kewajiban lain bagi santri yang rentan memudar saat mereka menikmati masa-masa kuliah tersebut. Apa itu? Mengabdi. Ya, mengabdi. Kegiatan inilah sesungguhnya yang akan bermanfaat bagi mereka agar kuliah tidak hanya sekedar menjadi aktivitas prestise berisi main-main dan jalan-jalan. Lantas, bagaimana sebenarnya kuliah yang baik bagi para santri itu? Apakah para santri yang ingin melanjutkan kuliah sudah menata niatnya dengan benar? Apakah mereka akan sanggup bertanggung jawab dengan ambisi mereka tersebut? Tulisan ini akan memberikan sedikit gambaran terkait apakah kuliah itu benar-benar penting bagi para santri dibandingkan mengabdi dan menimba ilmu kepada kyai?
Melihat keinginan dari para siswa yang akan lulus tahun ini, terutama bagi para santri Al-Imdad, yang sangat berambisi untuk kuliah, saya punya beberapa pertanyaan. Sebenarnya apa yang mereka cari ketika kuliah nantinya? Apakah ilmu, atau sekedar merubah status dari yang tadinya santri menjadi mahasiswa? Lalu apa sih tujuan kuliah itu sendiri?
Kuliah tentulah terkait erat dengan sebuah status baru sebagai mahasiswa. Dan mahasiswa sebagai pencari ilmu, dituntut untuk mampu mengabdi kepada masyarakat sebagai jalan dalam mengaplikasikan ilmunya. Inilah hakikat kuliah yang sebenarnya. Perlu disadari pula, tujuan utama kuliah bukanlah pekerjaan, atau mencari gelar bergengsi. Kuliah itu not just passing through, but learning. Karena kuliah tak sesedarhana mencari hasil tanpa menikmati proses. Karenanya, pada posisi inilah mahasiswa dituntut untuk bisa lebih aktif dalam mengamalkan ilmunya. Karena, di dalam dunia sebenarnya –kembali ke masyarakat– mahasiswa adalah motor yang diharapkan mampu berperan aktif menghidupkan kegiatan masyarakatnya, di mana pun ia berada. Inilah yang kerap disampaikan oleh mereka yang telah lulus dari kuliah dan sukses dalam kehidupannya.
Ironisnya, saat ini, anggapan seperti itu perlahan  mulai hilang. Di zaman sekarang ini, banyak dari mahasiswa yang membuang kesempatan meraih ilmu pengetahuan yang sebenarnya bertebaran ketika mereka kuliah. Dengan dalih mencari pengalaman baru, mereka justru tergiur melakukan kegiatan-kegiatan yang tidak menunjang kegiatan kuliah mereka. Umum terjadi di masa kini, banyak mahasiswa yang memilih menghabiskan waktu luang di kos-kosan atau di rumah dengan hanya bermain game, bermain gitar, nonton film, berebut panggung di media sosial, ketimbang menyambangi perpustakaan atau toko-toko buku. Libur kuliah menjadi saat bagi mereka sowan ke mall-mall untuk membeli barang yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan mereka, atau sekadar bersenang-senang cuci mata ketimbang dibandingkan menambah wawasan dan pengetahuan dengan berdiskusi dengan sesama mahasiswa, berkonsultasi dengan dosen, atau menghadiri seminar.
Apa yang salah? Apakah para mahasiswa tersebut lupa dengan pentingnya niat? Tidak juga. Tak sedikit mahasiswa yang mempersiapkan kuliah dengan niat yang sungguh-sungguh. Tapi, entah mengapa, niat kuat itu bisa saja terkikis sebab godaaan bagi mahasiswa jauh lebih besar dibandingkan ketika kita masih duduk di bangku MA atau SMA. Sehingga tak jarang kemudian mahasiswa-mahasiswa sedemikian hanya datang dan duduk di kelas ketika dosen masuk, mengerjakan tugas, lalu pulang. Istilahnya “kupu-kupu” alias kuliah-pulang, kuliah-pulang. Inilah salah satu dari sekian penyebab mengapa banyak sekali sarjana yang hanya menjadi pengangguran setelah menyelesaikan kuliahnya.
Satu hal lagi, kuliah akan menjadi kehilangan makna bagi para santri jika mereka melupakan kegiatan ngaji yang selama ini menjadi santapan rutin mereka di pondok. Bahkan ada juga yang saat nyantri mampu menjaga akhlak yang baik, namun atas dalih pergaulan mengalami degradasi akhlak akibat kurangnya pendalaman ilmu agama yang didapat saat mengaji. Karenanya, sebagai santri yang cukup beruntung menjadi mahasiswa, sempatkanlah waktu untuk mengaji di samping kesibukan-kesibukan ketika kuliah. Karena, bisa jadi, berkah ilmu akan kita dapatkan ketika mengaji.
Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya semua amal itu tergantung pada niatnya.” Dan dalam sebuah kaidah fiqh disebutkan bahwa, “Semua amal tergantung pada tujuan/maksudnya.” Dari hadits Nabi dan kaidah fiqh tersebut dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya kuliah itu tergantung pada niatnya ataupun tujuannya. Jika niatnya baik, maka proses dan hasilnya juga insya Allah akan baik. Namun sebaliknya, kalau niatnya saja sudah tidak baik, maka tentu saja, kuliah itu akan diiringi dengan hal-hal yang tidak baik yang ujung-ujungnya akan mendatangkan hasil yang tidak baik pula. Semoga kita terhindar dari yang sedemikian.
العلم بلا عمل كالشجر بلا ثمر
Ilmu tanpa amal layaknya pohon tanpa buah.”
Bersandar pada mahfuzhot di atas, dapat kita pahami bahwa ilmu berbanding lurus dengan aplikasi alias pengamalannya. Dan bagi para santri, pengamalan ilmu itu bisa diukur melalui proses mengabdi. Dengan mengabdi, ilmu yang kita dapatkan di pesantren bisa diejawantahkan kepada masyarakat pesantren itu sendiri sebagai batu loncatan terhadap pengabdian pada masyarakat dalam lingkup yang lebih luas. Dengan mengabdi, santri tentu akan semakin untuk lebih intensif lagi dalam menimba ilmu, dan terutama berkah dari sang kyai.

          Pada akhirnya, seperti kata orang bijak, semua adalah pilihan. Semua ada plus-minusnya sendiri-sendiri. Dengan kata lain, semua kembali ke diri kita sebagai individu yang dipasrahi tanggung-jawab sebagai khalifah Allah di muka bumi. Maka, pilihlah jalan yang sesuai dengan hati nurani. Semoga ilmu yang kita peroleh, baik itu saat mengaji sebagai santri maupun saat mengabdi sebagai mahasiswa (yang tetap menjadi santri), menjadi ilmu yang benar-benar akan bermanfaat selama-lamanya. Amin.

Ananta Prayoga Hutama Syam, Alumni MA Unggulan Al-Imdad Bantul dan Pondok Pesantren Al-Imdad Bantul, sekarang Mahasiswa UIN Maliki Malang dan menetap di Ibn Khaldun Dorm Ma'had Sunan Ampel Al-Ali Uin Maliki Malang. Satu dari beberapa santri alumni #AmazingAlimdad yang menerima Program PBSB Kemenag RI 2016.
Published: By: Yusuf Anas - 05.02

Rabu, 15 Maret 2017

METODE MENCINTAI ALLAH (MAHABBATULLAH)

Sebagai umat muslim, mencintai Allah SWT merupakan suatu kewajiban yang harus kita perlihatkan di dalam kehidupan kita sehari-hari. Cinta di sini bukanlah cinta yang hanya diucapkan melalui lisan belaka, melainkan cinta yang disertai dengan pembuktian yang nyata di dalam akhlak dan tingkah laku kita sehari-hari. Secara sederhana, mencintai Allah SWT dapat dibuktikan dengan cara mentaati segala sesuatu yang diperintahkan Allah serta menghindari dan menjauhi segala sesuatu yang dilarang-Nya.
Published: By: Santri Al-Imdad - 05.31

Selasa, 07 Februari 2017

PSB Al-Imdad 2017/2018 Gelombang II


Jadwal Penerimaan Santri Baru 2017/2018

TAHAP
GELOMBANG 1
GELOMBANG 2
GELOMBANG 3
Pendaftaran
5 Februari – 
31 Maret 2017 *
1 April – 
11 Juni 2017 *
12 Juni – 
1 Juli 2017 *
Tes
2 April 2017
11 Juni 2017
10, 11, 12 Juli 2017
Pengumuman Hasil Tes
9 April 2017
12 Juni 2017
 10, 11, 12 Juli 2017
Angsuran Pertama Daftar Ulang
9 April – 23 April   2017
12 Juni – 2 Juli 2017
3 Juli – 15 Juli 2017
Pertemuan Wali Santri
16 Juli 2017
 Pukul 08.00 WIB
16 Juli 2017
 Pukul 08.00 WIB
16 Juli 2017
 Pukul 08.00 WIB
Masuk Pesantren
16 Juli 2017
 Pukul 13.00 WIB
16 Juli 2017
 Pukul 13.00 WIB
16 Juli 2017
 Pukul 13.00 WIB
* Pendaftaran dapat dilakukan melalui website ini atau datang langsung pada saat TES.

Informasi PSB 2017/2018

1. Berusia maksimal 14 tahun untuk pendaftar MTs dan 17 tahun untuk pendaftar MA
2. Sehat jasmani dan rohani
3. Mengisi Formulir Pendaftaran
4. Menyerahkan fotocopy akte kelahiran (1 lbr)
5. Menyerahkan fotocopy kartu keluarga (1 lbr)
6. Menyerahkan Surat Keterangan NISN/Nomor Induk Siswa Nasional (1 lbr)
7. Menyelesaikan biaya pendaftaran dan seleksi
8. Gelombang I   = Rp.   50.000,-
9. Gelombang II  = Rp. 100.000,-
10. Mengikuti tes tulis dan wawancara
11. Jika ternyata pendaftar terbukti tidak lulus sekolah maka secara otomatis dinyatakan gugur.

Materi TES

Madrasah Tsanawiyah
Baca Tulis Al-Qur'an, Tes Potensi Akademik, dan Wawancara
Madrasah Aliyah
Baca Al-Qur'an, Tes Potensi Akademik, Wawancara dan Tes Tulis (Nahwu, Shorof, Bahasa Arab)
Published: By: Santri Al-Imdad - 06.18

Minggu, 28 Agustus 2016

Ahmad Kian Santang Menangkan Emas di KSM Nasional 2016

Bantul, 28 Agustus 2016
Ahmad Kian Santang adalah Santri Pondok Pesantren Al Imdad Bantul. Lahir di Sleman pada tanggal 30 Juni 2002, Kian adalah putra pertama dari pasangan Arosin Suryanto, S.Si dan Ade Rokayah, S.Ag yang beralamat di Jl. Turi No. 3 RT 044 Labasan Pekembinangun Pakem Sleman.

Dalam kesehariannya, santri ini dikenal sebagai pribadi sederhana dan lugu. Namun, di balik kesederhanaan dan keluguannya, Kian ternyata menyimpan prestasi yang layak dibanggakan dan wajib disyukuri.  Dalam ajang Kompetisi Sains Madrasah (KSM) Tingkat Nasional di Pontianak tanggal 23-27 Agustus 2016 lalu, ia mampu meraih MEDALI EMAS di bidang Biologi tingkat MTS. Tidak hanya itu, ia juga meraih Penghargaan The Best Overall di Mapel Biologi yang diikutinya.

Published: By: Yusuf Anas - 15.13

Senin, 18 April 2016

Dalam Keterbatasan, Dua Santri Rajai Hasil UAMBN Se-DIY


18 April 2016
Bantul, NU Online.
Sejak awal berdirinya, Madrasah Aliyah (MA) Unggulan Al-Imdad Bantul terus menorehkan prestasi. Mulai dari Lomba Kader Kesehatan, Lomba Hadroh Kreatif, Aksioma (Ajang Kompetisi Seni dan Olahraga Madrasah) hingga MQK, Pospeda, dan MTQ.

Yang terkini, MA berbasis pesantren ini berhasil menempatkan dua santrinya di posisi tertinggi hasil Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional (UAMBN) MA 2016 DI Yogyakarta, atas nama Ananta Prayoga Hutama Syam dan Ahmad Fahmi.

Published: By: Yusuf Anas - 21.30